Membangun Masa Depan Melalui Budaya: Studi Kasus Implementasi Palang Pintu di Tangerang Selatan

 


  • Fokus Penelitian: Penelitian ini membahas tentang tradisi Palang Pintu di wilayah Tangerang Selatan dan perbedaannya dengan pakem Palang Pintu yang ada di Jakarta atau wilayah Jabodetabek lainnya.

  • Identitas Budaya: Masyarakat Betawi di Tangerang Selatan, yang sering disebut sebagai Betawi Ora atau Betawi Pinggir, menjadikan Palang Pintu sebagai identitas budaya lokal mereka.

  • Ciri Khas & Perbedaan Pakem: Studi ini menemukan bahwa Palang Pintu Tangerang Selatan memiliki karakteristik tersendiri dalam lima aspek utama:

    • Pantun: Penggunaan dialek atau logat khas daerah setempat yang berbeda dengan Jakarta.

    • Silat: Menggunakan aliran silat lokal seperti Jalan Enam, Beksi, Cimande, dan Troktok.

    • Musik: Sering menggunakan iringan Gendang Pencak atau Gambang Kromong, sementara di Jakarta lebih dominan menggunakan Rebana Ketimpring.

    • Pakaian: Pemantun biasanya mengenakan baju pangsi (disebut Palang Pintu Jawara), berbeda dengan Jakarta yang sering menggunakan setelan jas tutup/ujung serong untuk juru pantunnya.

    • Ngaji: Di Tangerang Selatan, syarat terakhir biasanya berupa pembacaan ayat suci Al-Qur'an (seperti Surat Ar-Rum ayat 21), sedangkan di Jakarta lebih dikenal dengan pelantunan Sike (shalawat).

  • Tujuan & Manfaat: Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan pakem asli Tangerang Selatan agar tetap lestari dan dapat dijadikan ikon budaya lokal yang diakui secara resmi oleh pemerintah daerah.


  • Studi Kasus Palang Pintu Tangerang Selatan

    Studi Kasus Kebudayaan oleh Rachmat Ramdani (2020)

    Budaya Betawi: Palang Pintu Tangerang Selatan (2008-2019)

    1. Identitas "Betawi Ora"

    Masyarakat Tangerang Selatan mengidentifikasi diri sebagai Betawi Ora atau Betawi Pinggiran dengan dialek khas berakhiran 'a/ah'.

    2. Keunikan Pantun

    Berbeda dengan Jakarta (akhiran 'e'), pantun Tangsel menggunakan nada tinggi dan pelafalan tegas seperti "apah" atau "rumah".

    3. Pakem Silat & Musik

    Dominasi silat aliran Jalan Enam dan Beksi yang diiringi musik Gendang Pencak (bukan Ketimpring).

    ← Geser/Slide untuk poin utama →

    Latar Belakang

    Sejak berdirinya Kota Tangerang Selatan pada tahun 2008, tradisi Palang Pintu telah menjadi simbol identitas kedaerahan yang kuat. Tradisi ini bukan sekadar seni, melainkan syarat dalam pernikahan untuk menguji kesiapan mempelai pria dalam menjaga keluarga melalui "Main Pukul" (silat) dan mengaji.

    Filosofi Rebut Dandang

    "Nih lu rebut gua punya dandang, Baru sah kita jadi besan."

    Dandang dalam prosesi di Tangsel melambangkan tanggung jawab rumah tangga dan kemampuan untuk mencukupi kebutuhan pangan.

    Perbedaan dengan Jakarta

    • Bahasa: Menggunakan dialek pinggiran berakhiran 'ah'.
    • Musik: Menggunakan Gendang Penca, Terompet, dan Gong.
    • Religi: Menekankan pembacaan Surah Ar-Rum ayat 21.

    Sumber: Skripsi Rachmat Ramdani, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.