Paradoks Modernisasi dan Nasib Pekerja Seni Budaya di Tangerang Selatan

 


Tangerang Selatan adalah etalase pembangunan urban yang pesat. Dikelilingi oleh kawasan mandiri raksasa seperti BSD City, Bintaro Jaya, dan Alam Sutera, Tangsel bertransformasi menjadi kota metropolitan modern dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tinggi. Namun, di balik gemerlap mal dan apartemen, terdapat denyut nadi para pekerja seni—baik tradisional maupun modern—yang menghadapi realitas kontradiktif.


1. Profil Kasus (Representasi Kelompok)

Untuk memahami dinamika ini, kita dapat melihat dari dua sudut pandang kelompok pekerja seni yang merepresentasikan ekosistem di Tangsel:

  • Subjek A: Sanggar Seni Tradisional (Betawi Ora) di Ciputat/Pamulang. Mereka adalah pewaris seni Palang Pintu, Tari Cokek, dan Lenong. Di masa lalu, mereka menggantungkan hidup dari panggilan hajatan (pernikahan, sunatan).

  • Subjek B: Komunitas Seni Teater dan Musisi Independen. Kelompok anak muda kreatif yang aktif memproduksi naskah teater, musik indie, dan seni rupa kontemporer, yang tersebar di wilayah Serpong dan Pondok Aren.


2. Identifikasi Masalah Utama

Berada di tengah kota yang bergerak cepat, para pekerja seni di Tangsel menghadapi sejumlah tekanan struktural dan kultural:

  • Ketiadaan Infrastruktur Kesenian yang Representatif Hingga saat ini, salah satu keluhan terbesar para pekerja seni (yang kerap disuarakan oleh Dewan Kesenian Tangerang Selatan) adalah ketiadaan Gedung Kesenian berskala kota yang memadai dan terjangkau. Hal ini memaksa seniman harus menyewa aula serbaguna yang mahal atau tampil di ruang seadanya yang tidak memiliki standar akustik dan tata cahaya yang baik.

  • Gentrifikasi dan Menyusutnya Ruang Publik Terbuka Bagi seniman tradisional (Subjek A), lenyapnya lahan kosong di kampung-kampung akibat pembangunan perumahan membuat pertunjukan panggung terbuka skala besar (seperti Lenong semalam suntuk) semakin sulit digelar. Halaman rumah warga tidak lagi cukup luas untuk menampung panggung dan penonton.

  • Pergeseran Selera Pasar dan Komersialisasi Hiburan Masyarakat urban Tangsel cenderung memilih format hiburan yang lebih instan dan modern untuk acara pribadi mereka, seperti organ tunggal atau DJ. Permintaan terhadap kesenian tradisional menurun drastis, membuat penghasilan pekerja seni budaya menjadi tidak menentu dan sulit dijadikan mata pencaharian utama.

  • Ketimpangan Akses di Kawasan Elite Meski Tangsel memiliki banyak ruang publik modern (mall, amfiteater swasta, creative compound), akses ke tempat-tempat tersebut sering kali memiliki kurasi yang ketat dan berorientasi komersial murni. Seniman akar rumput kesulitan menembus tembok kawasan elite ini tanpa koneksi atau manajemen yang kuat.


3. Upaya Bertahan (Survival Strategy)

Meskipun dihadapkan pada keterbatasan, para pekerja seni di Tangsel menunjukkan ketangguhan yang luar biasa melalui beberapa strategi:

  • Diversifikasi Profesi: Mayoritas pekerja seni tidak bisa lagi mengandalkan seni sebagai sumber pendapatan tunggal. Pagi hingga sore mereka bekerja di sektor formal (guru, ojek online, staf administrasi), dan berlatih seni di malam hari.

  • Migrasi ke Platform Digital: Kelompok teater modern dan sanggar tradisional mulai mengemas pertunjukan mereka ke dalam format video pendek (YouTube, TikTok, Instagram) untuk menjangkau audiens baru dan mencari potensi monetisasi digital, meskipun hasilnya belum bisa menggantikan pertunjukan langsung.

  • "Menjemput Bola" ke Sektor Pendidikan: Banyak seniman yang menawarkan jasa ekstra kurikuler ke sekolah-sekolah negeri maupun swasta internasional di Tangsel untuk mengajarkan tari tradisional, teater, atau membatik, demi menjaga aliran pendapatan sekaligus melakukan regenerasi.


4. Rekomendasi dan Solusi Mengatasi Krisis

Untuk memastikan seni dan budaya tidak hanya menjadi "pajangan" tahunan saat HUT Kota Tangsel atau Lebaran Betawi, diperlukan intervensi nyata:

  1. Realisasi Pembangunan Ruang Seni (Gedung Kesenian): Pemerintah kota perlu segera merealisasikan pembangunan pusat kebudayaan atau creative hub publik yang disubsidi, sehingga seniman lokal dapat menyewa fasilitas berstandar tinggi dengan harga terjangkau.

  2. Sinergi Regulasi dengan Pihak Swasta (CSR): Pemkot dapat mengeluarkan kebijakan yang mendorong pengembang besar (developer) di Tangsel untuk mengalokasikan ruang publik gratis mereka secara berkala khusus untuk pertunjukan seniman lokal (bukan sekadar artis ibu kota).

  3. Integrasi Seni Lokal ke dalam Ekosistem Pariwisata Kota: Memasukkan pertunjukan sanggar seni lokal ke dalam paket wisata atau acara rutin di ruang publik seperti Taman Kota, Situ (danau), atau pusat kuliner populer di Tangsel, sehingga terjadi perputaran ekonomi langsung ke kantong para seniman.

Kesimpulan Nasib pekerja seni dan budaya di Tangerang Selatan adalah cerminan dari dilema kota-kota penyangga di Indonesia: kaya akan modal modernisasi, namun rentan mengalami amnesia sejarah. Tanpa adanya ruang ekspresi yang difasilitasi oleh negara dan diwadahi oleh pihak swasta, para seniman ini akan terus berjuang sendirian melawan arus urbanisasi.