Sejarah dan Akar Budaya Lenong di Tangerang Selatan



Tangerang Selatan (Tangsel) secara geografis dan kultural merupakan bagian dari wilayah Betawi Pinggiran atau yang sering disebut sebagai komunitas Betawi Ora. Sejak zaman kolonial Belanda, wilayah pinggiran Batavia seperti Ciputat, Pamulang, Pondok Aren, dan Setu mayoritas dihuni oleh masyarakat Betawi yang berbaur dengan budaya Sunda dan Banten.

Lenong, sebagai seni teater tradisional yang memadukan komedi, musik Gambang Kromong, dan seni bela diri, masuk dan mengakar kuat di wilayah ini sebagai hiburan rakyat kelas bawah. Pada masa lalu, Lenong menjadi medium ekspresi, kritik sosial, dan hiburan utama setelah masa panen atau saat ada perayaan besar.


Dua Jenis Lenong yang Berkembang

Di wilayah Tangerang Selatan dan sekitarnya, masyarakat mengenal dua jenis Lenong yang dipertunjukkan berdasarkan tema ceritanya:

  • Lenong Preman: Jenis ini paling populer di kalangan masyarakat Betawi Ora di Tangsel. Ceritanya berkisar pada kehidupan sehari-hari dan kisah kepahlawanan lokal (jawara) yang melawan tuan tanah kikir atau penjajah kompeni (seperti kisah Si Pitung atau jawara lokal Banten/Tangerang). Pakaian yang digunakan adalah pakaian sehari-hari atau pangsi.

  • Lenong Denes: Berisi cerita tentang kaum bangsawan, raja-raja, atau petinggi pemerintahan dengan bahasa yang lebih halus dan pakaian yang formal. Namun, Lenong Denes kurang begitu mendominasi di wilayah pinggiran dibandingkan Lenong Preman.


Karakteristik Khas Lenong Tangsel

Meski berakar dari budaya Betawi yang sama dengan di pusat Jakarta, Lenong di Tangerang Selatan memiliki beberapa warna lokal yang membedakannya:

  • Dialek Betawi Ora: Jika Lenong di Jakarta Pusat sering menggunakan akhiran "e" (misal: kenape, kemanah), Lenong di Tangsel kental dengan dialek Betawi Ora yang terdengar lebih kasar, blak-blakan, dan sering menggunakan vokal "a" yang khas, berpadu dengan sedikit kosakata serapan dari bahasa Sunda.

  • Integrasi Silat Lokal: Tangerang dan Banten terkenal dengan tradisi jawaranya. Pertunjukan Lenong di Tangsel selalu dibumbui dengan adegan pertarungan pencak silat aliran lokal, seperti Silat Beksi atau aliran silat cingkrik yang berkembang di wilayah Ciputat dan Pondok Aren.

  • Musik Gambang Kromong yang Menghentak: Iringan alat musik gesek (Tehyan, Kongahyan) dan tabuhan kromong menjadi nyawa pertunjukan. Di wilayah pinggiran, iramanya sering kali dimainkan dengan tempo yang lebih cepat dan dinamis untuk mengundang penonton ikut menari (ngibing).


Masa Kejayaan (Era 1970-an hingga 1990-an)

Pada era ini, pertunjukan Lenong merupakan hiburan wajib dalam setiap acara hajatan (pernikahan) dan sunatan (khitanan) di pelosok Tangerang Selatan.

Pertunjukan biasanya dilakukan semalam suntuk di panggung terbuka atau di halaman rumah warga yang luas. Rombongan Lenong berkeliling dari satu kampung ke kampung lain, membawa rombongan pemain, pemusik, dan penari cokek. Tokoh-tokoh bodor (pelawak) dalam Lenong menjadi bintang kampung yang sangat dihormati dan dinantikan kehadirannya.


Tantangan dan Pelestarian di Era Modern

Seiring dengan pemekaran wilayah dan pesatnya urbanisasi yang mengubah Tangerang Selatan menjadi kota metropolitan baru, kesenian Lenong mulai terpinggirkan oleh hiburan modern, televisi, dan internet. Lahan kosong untuk pertunjukan semalam suntuk pun semakin berkurang.

Namun, upaya pelestarian terus dilakukan hingga saat ini:

  1. Sanggar Seni Tradisional: Banyak sanggar seni Betawi di Setu, Jurang Mangu, dan Ciputat yang terus melatih anak-anak muda bermain teater Lenong, menari, dan bermain musik Gambang Kromong.

  2. Dukungan Pemerintah Kota: Pemerintah Kota Tangerang Selatan bersama Badan Musyawarah (Bamus) Betawi Tangsel sering mengadakan festival budaya, seperti Lebaran Betawi Tangsel atau perayaan HUT Kota Tangsel, di mana Lenong selalu menjadi panggung utama.

  3. Adaptasi Durasi dan Gaya: Lenong masa kini di Tangsel telah beradaptasi. Dari yang awalnya dimainkan semalam suntuk, kini sering dipadatkan menjadi 1-2 jam pertunjukan dengan memasukkan isu-isu sosial kekinian yang relevan dengan masyarakat urban Tangsel.

Catatan Sejarah: Kelangsungan Lenong di Tangerang Selatan bukan sekadar mempertahankan tontonan, melainkan menjaga identitas asli masyarakat Betawi Ora di tengah laju modernisasi kota. Perpaduan antara humor, kritik sosial, dan nilai sportivitas (silat) membuat Lenong tetap menjadi warisan tak benda yang sangat berharga.