Sejarah dan Filosofi Rumah Blandongan, Warisan Budaya Betawi di Tangsel
Rumah Blandongan merupakan salah satu kekayaan arsitektur tradisional yang sangat identik dengan kebudayaan masyarakat Betawi di wilayah Tangerang Selatan (khususnya wilayah Ciputat, Pamulang, dan Serpong). Berbeda dengan rumah tinggal utama, Blandongan memiliki fungsi dan filosofi sosial yang unik.
Berikut adalah ringkasan riset mengenai Rumah Blandongan di Tangerang Selatan:
1. Definisi dan Karakteristik Arsitektur
Secara fisik, Blandongan adalah bangunan tambahan atau paviliun yang biasanya terletak di bagian depan atau samping rumah utama. Karakteristik utamanya meliputi:
Struktur Terbuka: Umumnya tidak memiliki dinding penuh (semi-terbuka) untuk sirkulasi udara yang maksimal.
Tiang Penyangga: Menggunakan tiang-tiang kayu (seringkali kayu nangka atau kecapi) yang berdiri di atas umpak batu atau semen agar kayu tidak cepat lapuk.
Atap Limasan/Pelana: Menggunakan atap genteng tanah liat dengan kemiringan yang curam. Di bagian depan, biasanya terdapat sorondoy (atap tambahan yang menjorok ke depan).
Bale-Bale: Di dalamnya terdapat dipan atau kursi panjang kayu yang digunakan untuk bersantai.
2. Fungsi Sosial dan Budaya
Rumah Blandongan bukan sekadar bangunan kosong, melainkan pusat interaksi sosial masyarakat Tangsel:
Ruang Tamu Publik: Tempat menerima tamu laki-laki atau tetangga yang mampir tanpa harus masuk ke area privat rumah utama.
Tempat Musyawarah: Sering digunakan sebagai lokasi berkumpul untuk membahas urusan warga atau hajatan.
Simbol Keterbukaan: Desainnya yang terbuka melambangkan karakter masyarakat Betawi Tangsel yang egaliter, jujur, dan menerima siapapun dengan tangan terbuka.
Kegiatan Ekonomi: Pada masa lalu, Blandongan juga berfungsi sebagai tempat menyortir hasil kebun atau memperbaiki alat pertanian.
3. Perbedaan dengan Rumah Betawi Lainnya
Jika Rumah Kebaya (Pusat Jakarta) cenderung lebih formal dengan teras berpagar kayu (balaksuji), Blandongan di Tangsel tampil lebih sederhana dan menyatu dengan alam (tanah). Hal ini dipengaruhi oleh latar belakang masyarakat Tangsel yang dulunya didominasi oleh petani dan pekebun.
4. Status Konservasi di Tangerang Selatan
Saat ini, keberadaan Rumah Blandongan asli mulai tergerus oleh modernisasi dan pembangunan perumahan. Namun, Pemerintah Kota Tangerang Selatan mulai melakukan upaya pelestarian:
Ikon Kota: Blandongan dijadikan inspirasi bentuk atap pada gedung-gedung pemerintahan di Tangsel (seperti Balai Kota dan beberapa kantor kecamatan).
Pusat Kebudayaan: Replikasi Blandongan sering dibangun di tempat wisata atau pusat kreatif (seperti di kawasan Jaletreng atau objek wisata budaya lokal) untuk mengenalkan warisan ini kepada generasi muda.
5. Nilai Filosofis: "Privasi vs Sosial"
Riset menunjukkan bahwa keberadaan Blandongan menciptakan zonasi yang jelas antara area publik (Blandongan) dan area privat (Rumah Utama). Hal ini menunjukkan betapa masyarakat tradisional Tangsel sangat menghormati privasi keluarga namun tetap menjaga kerukunan bertetangga melalui ruang komunal yang disediakan di depan rumah.
Catatan: Riset ini menekankan bahwa Blandongan bukan sekadar gaya bangunan, melainkan manifestasi dari cara hidup masyarakat Tangerang Selatan yang sangat menghargai silaturahmi.
dibawah ini adalah lokasi rumah blandongan asli yang masih ada di tangsel dipakai untuk syuting iklan kopi oleh LBB TANGSEL :







.jpg)
